SUMBAR - Di tengah duka mendalam yang menyelimuti Ranah Minang pasca bencana banjir bandang dan galodo yang melanda beberapa waktu lalu, sebuah potret kemanusiaan hadir memberikan kesejukan. Bukan tentang strategi evakuasi atau pengerahan alat berat, melainkan sebuah tindakan sederhana namun sarat makna: Kapolda Sumatera Barat bersimpuh untuk memasangkan sepatu baru di kaki seorang anak yatim korban bencana.
Momen ini bukan sekadar seremoni bantuan, melainkan sebuah pesan kuat tentang empati dan kehadiran negara di tengah rakyatnya yang sedang terluka.
Lebih dari Sekadar Alas Kaki
Bagi banyak orang, sepasang sepatu mungkin hanyalah barang biasa. Namun, bagi seorang anak yang baru saja kehilangan rumah, harta benda, dan mungkin orang tercinta dalam sekejap mata akibat terjangan air dan lumpur, sepatu adalah simbol harapan untuk melangkah kembali.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Sumbar tidak berdiri di atas podium memberikan instruksi. Ia justru memilih untuk turun, menekuk lututnya, dan menyetarakan tinggi badannya dengan sang anak. Saat tangannya yang biasa memegang komando kini dengan lembut mengikat tali sepatu anak tersebut, ada sekat yang runtuh sekat antara pejabat tinggi dan rakyat kecil.
Empati di Balik Seragam
Aksi bersimpuh ini menggetarkan hati banyak orang karena menunjukkan sisi humanis dari seorang aparat penegak hukum. Di balik seragam yang gagah, terdapat hati yang ikut merasakan perihnya kehilangan. Bagi anak yatim yang menjadi korban tersebut, tindakan sang Jenderal mungkin akan menjadi memori yang menyembuhkan, bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa depan yang sempat terasa gelap.
Banjir bandang memang menyisakan trauma yang mendalam. Suara gemuruh air dan pemandangan rumah yang hancur tidak mudah hilang dari ingatan anak-anak. Oleh karena itu, pendekatan psikososial melalui kasih sayang seperti ini jauh lebih berharga daripada bantuan materi semata.
Pesan Gotong Royong dan Kepedulian
Momen ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pemulihan pasca-bencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga memulihkan mental dan semangat para penyintas.
Beberapa poin penting yang bisa kita petik dari aksi ini adalah:
Kepemimpinan yang Melayani: Pemimpin sejati adalah mereka yang mau turun ke bawah dan merasakan langsung debu serta luka masyarakatnya.
Kepekaan Sosial: Di saat krisis, kehadiran fisik dan sentuhan personal memberikan kekuatan moral yang luar biasa.
Membangun Masa Depan: Memberikan perlengkapan sekolah atau kebutuhan dasar anak-anak adalah investasi agar mereka tetap berani bermimpi meski di tengah keterbatasan.
Aksi Kapolda Sumbar yang bersimpuh memasangkan sepatu bagi anak yatim ini adalah bukti bahwa kemanusiaan tetap menyala di tengah kegelapan bencana. Sepatu itu akan membawa langkah sang anak menuju sekolah, menuju cita-cita, dan menuju hari esok yang lebih baik.
Semoga momen ini menginspirasi kita semua untuk terus mengulurkan tangan, sekecil apa pun bantuan yang bisa kita berikan. Karena pada akhirnya, yang akan diingat dari masa sulit bukanlah seberapa besar harta yang hilang, melainkan seberapa besar kasih sayang yang kita terima dan berikan.
