ACEH TENGAH - Jarak seringkali bukan sekadar angka di atas peta, melainkan ujian ketangguhan mental dan fisik. Bagi warga di pelosok Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, jarak menuju pusat peradaban kini terasa berkali-kali lipat lebih jauh akibat akses jalan yang luluh lantak. Namun, pada Jumat, 9 Januari 2026, rintangan alam tersebut tidak menghentikan langkah jajaran Polres Aceh Tengah untuk hadir di tengah masyarakat.
Perjalanan Satu Jam yang Menjadi Delapan Jam
Dalam kondisi normal, perjalanan menuju desa-desa terpencil di Kecamatan Bintang mungkin hanya memakan waktu sekitar satu jam. Namun, realita di lapangan saat ini berbicara lain. Jalur utama yang menjadi urat nadi ekonomi warga telah berubah menjadi medan yang ekstrem: sempit, licin, dan dipenuhi kerusakan berat.
Kendaraan roda empat standar tak lagi mampu menanjak. Pilihannya hanya satu: menggunakan motor trail. Dengan raungan mesin yang memecah kesunyian hutan, para personel kepolisian harus berjibaku menjaga keseimbangan di atas jalur tanah yang becek. Perjalanan yang biasanya singkat, membengkak menjadi delapan jam perjuangan melelahkan. Setiap jengkal tanah yang dilalui menuntut kewaspadaan tinggi, karena satu kesalahan kecil bisa berarti tergelincir ke dalam jurang atau terjebak di kubangan lumpur yang dalam.
Membawa Lebih dari Sekadar Sembako
Motivasi di balik perjalanan berat ini adalah paket bantuan yang diikat erat di jok motor. Polres Aceh Tengah membawa misi kemanusiaan berupa penyaluran sembako, pakaian layak pakai, hingga perlengkapan sekolah.
Bantuan ini bukan sekadar simbolitas. Di daerah yang aksesnya terputus, ketersediaan bahan pokok adalah masalah hidup dan mati. Dengan sampainya bantuan ini, warga diharapkan dapat sedikit bernapas lega di tengah keterbatasan yang ada.
Senyum di Sekolah: Harapan bagi Masa Depan
Salah satu fokus utama dalam aksi ini adalah pendidikan. Meski kondisi jalan dan sarana prasarana desa belum pulih sepenuhnya, anak-anak di pedalaman Aceh Tengah menunjukkan semangat luar biasa dengan mulai kembali bersekolah.
Menyadari hal tersebut, pembagian perlengkapan sekolah menjadi momen yang paling emosional. Buku tulis, tas, dan alat sekolah baru dibagikan agar anak-anak ini tetap bisa bermimpi dan belajar dengan layak. Polisi hadir untuk memastikan bahwa meski desa mereka terisolasi secara geografis, masa depan mereka tidak boleh terisolasi dari ilmu pengetahuan.
Kehadiran yang Menguatkan
Lebih dari sekadar logistik, kehadiran personel Polres Aceh Tengah adalah bentuk kehadiran negara. Di sela-sela pembagian bantuan, para petugas menyempatkan diri untuk menyapa, mendengar keluh kesah, dan memastikan kondisi kesehatan warga tetap terpantau.
"Bukan sekadar mengantar barang, kami ingin warga tahu bahwa mereka tidak sendirian," ujar salah satu personel di lokasi. Dialog-dialog kecil di teras rumah panggung warga menjadi obat penawar lelah setelah delapan jam bertarung dengan lumpur.
Penutup
Aksi heroik pada 9 Januari ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya solidaritas. Jalur yang rusak mungkin menghambat laju kendaraan, tetapi tidak akan pernah bisa menghentikan niat tulus untuk berbagi. Bagi warga Kecamatan Bintang, kedatangan tim Polres Aceh Tengah adalah bukti nyata bahwa di balik gelapnya hutan dan licinnya jalanan, masih ada cahaya kepedulian yang menolak untuk menyerah.
